Gimana kabarnya shohibudin semua? Bulan yang penuh barokah telah kita tinggalkan, lalu apakah yang masih bisa kita kerjakan dengan semangat yang sama dengan semangat di waktu bulan tersebut? Insyaallah kita masih dapat bertauhid kepada Rabb Semesta Alam Yang Menguasai Kerajaan Langit dan Bumi. Lalu bagaimana cara kita membentengi diri dengan tauhid murni? Salah satu caranya adalah dengan mengenal dahulu lawannya, yaitu syirik. Telah dimaklumi bahwa sesuatu akan lebih mudah dikenali dengan memahami lawannya.
Secara mutlak syirik kepada Allah tergolong keharaman terbesar. Sandarannya berupa hadits dari Abu Bakrah, yang menuturkan bahwa Rasulullah bersabda: “Maukah kukabarkan kepada kalian dosa yang paling besar? (tiga kali). Mereka berkata: ‘Kami menjawab: ’Ya wahai Rasulullah!’ Beliau berkata: ’Menyekutukan Allah’ ” [HR. Bukhari dan Muslim].
Tiap dosa dan kesalahan sangat mungkin diampuni Allah, terkecuali syirik. Karenanya untuk meraih ampunan dosa ini harus ditempuh dengan metode khusus.
•
Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barang siapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar. [An-Nisa’: 48]
Sembah Kubur
Merebaknya keyakinan bahwa para wali yang telah mati memiliki kemampuan untuk memenuhi hajat, membantu menghilangkan kesempitan hidup, dan tempat mohon pertolongan.
Kalau kita cermati lebih lanjut keyakinan macam ini berseberangan dengan firman Allah yang menegaskan: “Dan Rabbmu telah memerintahkanmu supaya kamu tidak beribadah kecuali hanya kepadaNya.” [Al-Israa’: 23]
Begitu halnya dengan permohonan do’a kepada para nabi dan orang sholih atau lainnya yang telah mati untuk dimintai pertolongan, atau agar terbebas dari segala keruwetan.
Allah menyatakan dalam firmanNya:“Atau siapakah yang memperkenankan (do’a) orang yang berada dalam kesulitan apabila engkau sebagai khalifah di bumi? Apakah disamping Allah ada (tuhan) yang lain?” [An-Naml: 62]
Sementara orang mengitari kuburan, memeluk batu nisan serta mengelus-elusnya, mencium ambang pintu, melumuri wajah dengan debu kuburan, dan bersujud kepadanya. Jika melihat makam, berhenti dengan penuh kekhusyukan dan kepasrahan, memohon terkabulnya permintaan dan hajat, seperti kesembuhan dari penyakit, memperoleh keturunan, kemudahan dalam urusan, atau bahkan menyeru kepada penghuni kubur untuk dikabulkan segala maksudnya. Allah berfirman:“Dan siapakah yang lebih sesat daripada orang yang menyembah sembahan-sembahan selain Allah yang tiada mampu memperkenankan doanya sampai hari kiamat dan mereka lalai dari (memperhatikan) do’a mereka” [Al-Ahqaf: 5]
Bernadzar untuk selain Allah juga merupakan bentuk kesyirikan, seperti halnya orang-orang yang bernadzar dengan menyalakan lilin ataupun pelita bagi penghuni kubur.
Di antara fenomena-fenomena yang ada adalah melakukan penyembelihan untuk para penghuni kubur, padahal dilansir dalam sebuah ayat:“Dan dirikanlah sholat karena Rabbmu, dan berkurbanlah!” [Al-Kautsar: 2]
Secara tegas ayat menyatakan: “Berkurbanlah untuk dan atas nama Allah.”
Sementara itu Nabi bersabda: ”Allah melaknat orang yang menyembelih untuk selainNya.” [HR. Muslim]
Sebab yang mendasari larangan tersebut berupa dua kandungan keharamannya, yaitu menyembelih untuk selain Allah dan menyembelih atas nama selainNya.
Kedua sebab ini pula yang menjadi penghalang memakan sesembelihan yang dilakukan.
Sembah ‘Ulama?
Merupakan wujud kesyirikan (akbar) besar adalah menghalalkan sesuatu yang diharamkan Allah dan mengharamkan segala hal yang dihalalkanNya. Atau berkeyakinan ada seseorang yang memiliki wewenang dalam menetapkan halal dan haram selain Allah.
Allah berfirman:“Mereka menjadikan orang-orang ‘alimnya dan para rahib mereka sebagai tuhan selain Allah.” [At-Taubah: 31]
Manakala ‘Adi bin Hatim mendengar ayat ini, ia pun berujar: ’Sesungguhnya mereka tidak menyembah para rahib itu!’
Kemudian Rasulullah menanggapi ucapannya dengan berkata: ’Benar, tetapi para rahib itu menghalalkan bagi mereka apa yang diharamkan Allah, dan orang-orang menganggapnya halal. Mereka juga mengharamkan untuk merka apa yang dihalalkan Allah, lalu (para pengikutnya) mengharamkannya. Demikianlah bentuk penyembahan mereka kepada para rahib (itu)’ [HR. Baihaqi]
Begitupun dengan kondisi umat Islam, ketika seorang figur berani mengatakan haram dan haram tanpa dasar syari’at, merekapun mengikutinya dengan berkata: ‘Fulan telah mengharamkan hal ini dan membolehkan itu’. Maka ini pula tak jauh beda dengan keadaan umat yang disinyalir oleh hadits tersebut.
Ramalan Bintang
Fenomena yang mewabah adalah kuatnya keyakinan akan adanya pengaruh perbintangan terhadap kehidupan, rizki, jodoh, dan lainnya. Dilansir dalam sebuah riwayat, suatu ketika Rasulullah dan para sahabatnya usai menunaikan sholat Shubuh, bertepatan dengan itu muncul semburat warna di ujung malam. Maka Rasulullah berbalik dan menghadap ke arah para sahabatnya seraya mengatakan:“Tahukah kalian apa yang difirmankan oleh Rabb kalian? Mereka menjawab: ‘Allah dan RasulNya lebih mengetahui.’ Nabi bersabda: ‘Dia berfirman: Pagi ini di antara hamba-hamba-Ku ada yang beriman dan kufur kepada-Ku. Adapun orang yang mengatakan: ‘Telah turun hujan kepada kita berkat karunia dan rahmat Allah, berarti dia beriman kepada-Ku dan kufur kepada bintang. Sedangkan orang yang mengatakan: ‘Telah turun hujan kepada kita karena bintang ini tau bintang itu’ Maka dia kufur kepada-Ku dan percaya kepada bintang.” [HR. Bukhari]
Masuk dalam kategori ini adalah bergantung pada ramalan nasib di surat kabar, tabloid, maupun media lain. Siapapun yang mempercayai pengaruh ramalan perbintangan dan astronomi yang termuat, dia seorang musyrik. Jika hanya sekedar membaca dalam rangka menghibur diri maka dia telah berbuat maksiat yang berhak mendapat dosa, karena tidak diperbolehkan menghibur diri dengan membaca hal-hal haram terlebih sesuatu yang bermuatan syirik.
Syirik Kecil
Terjaganya kemurnian ibadah dari riya’ merupakan syarat terciptanya amal shalih yang terikat kuat dengan sunnah.
Jika pelaksanaan ibadah karena tendensi agar dilihat orang lain, masuk dalam kriteria riya’, Allah menegaskan dalam firmanNya:“Sesungguhnya orang-orang munafik itu menipu Allah, dan Allah akan membalas tipuan mereka. Dan apabila mereka menegakkan sholat, mereka berdiri dengan malas, mereka bermaksud riya’ di hadapan manusiia. Dan tidaklah mereka menyebut Allah kecuali sedikit sekali.” [An-Nisa’: 142]
Pun masuk dalam cakupan ini adalah melakukan amalan agar didengar dan dibicarakan orang banyak. Orang-orang model ini telah terjebak dalam kubangan syirik. Rasulullah telah bersabda :“Barang siapa berupaya agar didengar niscaya Allah juga akan memperdengarkan kejelekannya. Dan barangsiapa berbuat riya’ niscaya Allah juga akan membalasnya dengan perlakuan riya.” [HR. Muslim]
Bahkan riya’ memiliki bahaya yang teramat besar, hingga berimbas tercabutnya amalan yang dikerjakan seseorang.
Rasulullah menyatakannya dalam sebuah hadits qudsi:“Akulah Dzat yang paling tak butuh kepada persekutuan, Barang siapa melakukan suatu amalan, sedang di dalamnya dia menyekutukanKu dengan selainKu, maka aku tinggalkan dia dan persekutuannya.” [HR. Muslim].
Orang yang memulai suatu amalan karena Allah, kemudian terjangkiti riya’, bila dia menyikapinya dengan kebencian dan berupaya keras untuk menepis serta memeranginya, maka benarlah amalnya. Sebaliknya, jika dia tidak berusaha menepis serta memeranginya tetapi malah menikmati riya’nya tersebut, maka mayoritas ulama menetapkan kesia-siaan amalan yang dilakukannya.
Bersandar dengan Keburukan
Syahdan, orang Arab jika akan melakukan aktivitas tertentu, seperti bepergian mereka memegang ekor burung kemudian melepaskannya. Jika burung tersebut terbang kearah kanan, maka merasa optimis dan meneruskan pekerjaan. Apabila burung tersebut terbang kearah kiri, dia berhenti dan merasa pesimis dengan tindakan yang akan dilakukan. Kalau kita telusuri kebiasaan model ini, sangat bertentangan dengan apa yang diungkapkan Rasulullah: “Meramal dengan sebuah keburukan adalah syirik.” [HR.Ahmad]
Masuk dalam cakupan ini adalah berpantangan dengan bulan atau hari-hari tertentu. Juga dengan tempat, waktu, serta angka khusus, seperti meyakini bahwa angka 13 adalah angka pembawa sial.
Karakter meramal dengan keburukan model tersebut sangatlah tercela, yang keberadaannya dibenci Rasulullah:“Bukan termasuk golongan kami, orang yang meramal dengan suatu keburukan dan minta diramal, orang yang melakukan perdukunan dan yang minta perdukunan.” [HR. Ath Thabraniy]
Memang, pesimisme merupakan tabiat jiwa, yang terkadang mengalami pasang surut.
Langkah penyembuhannya adalah dengan bertawakal kepada Allah.
Seperti ungkapan yang dituturkan oleh Ibn Mas’ud:“Tidaklah dari kami mendapati sesuatu berupa pesimisme, melainkan Allah melenyapkannya dengan tawakal.” [HR. Abu Dawud]
Bersumpah dengan SelainNya
Telah menjadi kelumrahan dan biasa terjadi adalah melontarkan sumpah dengan selain Allah. Padahal sumpah adalah satu bentuk pengagungan, yang hanya layak ditujukan kepada Allah. Sebuah sumber meriwayatkan:“Barang siapa yang bersumpah dengan selain Allah, berarti telah syirik.” [HR. Ahmad]
Walhasil, bersumpah dengan ka’bah, kemuliaan, barakah si fulan, keagungan Nabi, wali ataupun bapak-ibu serta benda-benda lain haram hukumnya. Orang yang melakukannya dikenai kafarah (tebusan) dengan mengucapkan Laa ilaha illallah, sebagaimana konteks perintah hadits:“Barangsiapa bersumpah, kemudian mengatakan dalam sumpahnya, demi Latta dan ‘Uzza. Maka hendaklah (ia) mengucapkan kalimat Laa ilaha illallah.” [HR. Bukhari]
Senada pula dengan bahasan ini adalah deretan ucapan yang bernada mengumpat zaman, seperti zaman sial, zaman sulit, zaman pengecut dan lainnya.
“Janganlah kalian mencela masa, maka sesungguhnya Allah yang menguasai masa.” [HR. Muslim].
Termasuk hal-hal haram lain adalah menjuluki manusia dengan ungkapan hakim segala hakim, raja diraja, atau mengucapkan lafadz ‘tuan’ untuk orang-orang kafir atau munafik. Juga mengungkapkan kata-kata ‘seandainya’ sebagai isyarat kemarahan, penyesalan, keluh kesah, dan membuka pintu amalan setan.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar